10 Tahapan dalam Proses Sidang Perceraian di Pengadilan Agama

Pada umumnya proses perceraian berlangsung dalam jangka waktu maksimal 6 (enam) bulan pada tingkat pertama di Pengadilan Agama. Namun, apabila proses sidang berjalan dengan lancar, maka jangka waktu yang diperlukan biasanya hanya sampai 3 (tiga) atau 4 (empat) bulan saja. Apabila para pihak dalam hal ini Penggugat/Pemohon dan Tergugat/Termohon datang ke persidangan, maka setidaknya ada sepuluh tahapan yang harus dilalui oleh para pihak dalam menumpuh proses perceraian di Pengadilan Agama. Adapun sebagai berikut:

Pertama, Pemanggilan Para Pihak.

Perkara yang sudah didaftarkan di Pengadilan Agama oleh Penggugat/Pemohon, selanjutnya tinggal menunggu panggilan sidang dari Juru Sita/Juru Sita Pengganti. Pemanggilan oleh Juru Sita/Juru Sita Pengganti kepada pihak Penggugat/Pemohon dan Tergugat/Termohon dilakukan sekurang-kurangnya 3 hari sebelum sidang atau maksimal 14 hari kerja setelah gugatan didaftarkan apabila para pihak berada dalam satu wilayah Pengadilan Agama yang sama.

Jika pada saat dipanggil para pihak tidak berada di tempat, maka panggilan disampaikan melalui Kepala Desa/Lurah dimana para pihak bertempat tinggal.

Kedua, Mengambil Antrian Sidang.

Para pihak yang sudah datang untuk bersidang di Pengadilan Agama, salah satunya harus mengambil nomor antrian sidang yang akan dipandu oleh petugas pada Meja Informasi.

Ketiga, Pemeriksaan oleh Majelis Hakim.

Setelah memasuki ruang sidang, Majelis Hakim akan memeriksa kelengkapan para pihak dan kelengkapan berkas perkara dari pihak Penggugat/Pemohon. Penggugat/Pemohon harus membawa berkas berupa: Surat Panggilan, Surat Gugatan, KTP+Fotokopinya yang telah dimaterai dan dilegalisir oleh Kantor Pos, dan Buku Nikah+Fotokopinya yang telah dimaterai dan dilegalisir oleh Kantor Pos.

Keempat, Upaya Perdamaian (Mediasi).

Jika kedua belah pihak hadir dipersidangan, sesuai dengan Perma No. 1/2016 Majelis Hakim mewajibkan kedua belah pihak untuk menempuh mediasi dengan hakim mediator yang telah disediakan oleh pihak pengadilan.

Kelima, Pembacaan Gugatan.

Sebelum surat gugatan dibacakan, Majelis Hakim wajib menyatakan sidang tertutup untuk umum. Surat Gugatan Penggugat/Pemohon yang diajukan ke Pengadilan Agama itu dibacakan oleh Penggugat/Pemohon sendiri atau salah seorang Majelis Hakim.

Keenam, Jawab-Jinawab.

1. Jawaban Tergugat/Termohon

Merupakan hak dari Tergugat atau Termohon untuk memberikan sanggahan terhadap surat gugatan yang diajukan oleh Penggugat/Pemohon. Jawaban dapat dilakukan secara tertulis atau lisan ( Pasal 158 ayat (1) R.Bg). Pada tahap jawaban ini, Tergugat/Termohon dapat pula mengajukan eksepsi (tangkisan) atau rekonpensi (gugatan balik).

2. Replik Penggugat/Pemohon.

Setelah Tergugat/Termohon menyampaikan jawabannya, kemudian si-Penggugat/Pemohon diberi kesempatan untuk menanggapinya sesuai dengan pendapat Penggugat/Pemohon. Pada tahap ini mungkin Penggugat/Pemohon tetap mempertahankan gugatannya atau bisa pula merubah sikap dengan membenarkan jawaban/bantahan Tergugat/Termohon.

3. Duplik Tergugat/Termohon.

Setelah Penggugat/Pemohon menyampaikan repliknya, kemudian Tergugat/Termohon diberi kesempatan untuk menanggapinya/menyampaikan dupliknya. Dalam tahap ini dapat diulang-ulangi sampai ada titik temu antara Penggugat/Pemohon dengan Tergugat./Termohon. Apabila acara jawab menjawab dianggap cukup oleh hakim, dan masih ada hal-hal yang tidak disepakati oleh kedua belah pihak, maka hal ini dilanjutkan dengan acara pembuktian.

Ketujuh, Pembuktian.

Pada tahap ini, Penggugat/Pemohon dan Tergugat/Termohon diberi kesempatan yang sama untuk mengajukan bukti bukti, baik berupa bukti surat maupun saksi-saksi secara bergantian yang diatur oleh Majelis Hakim. UNtuk bukti saksi, minimal dua orang saksi yang mengetahui persis permasalahan keluarga misalnya, orang tua.

Kedelapan, Kesimpulan.

Pada tahap ini, baik Penggugat/Pemohon maupun Tergugat/Termohon diberi kesempatan yang sama untuk mengajukan pendapat akhir yang merupakan kesimpulan hasil pemeriksaan selama sidang berlangsung menurut pandangan masing-masing. Kesimpulan yang disampaikan ini dapat berupa lisan dan dapat pula secara tertulis.

Kesembilan, Musyawarah Majelis Hakim.

Rapat Permusyawaratan Majelis Hakim bersifat rahasia. Dalam rapat permusyawaratan majelis hakim, semua hakim menyampaikan pertimbangannya atau pendapatnya baik secara lisan maupun tertulis. Jika terdapat perbedaan pendapat, maka diambil suara terbanyak, dan pendapat yang berbeda tersebut dapat dimuat dalam putusan (dissenting opinion).

Kesepuluh, Putusan Hakim.

Setelah selesai musyawarah majelis hakim, sesuai dengan jadwal sidang, pada tahap ini dibacakan putusan majelis hakim. Setelah dibacakan putusan tersebut, Penggugat/Pemohon dan Tergugat/Termohon berhak mengajukan upaya hukum banding dalam tenggang waktu 14 hari setelah putusan diucapkan. Apabila Penggugat/Pemohon atau Tergugat/Termohon tidak hadir saat dibacakan putusan, maka Juru Sita Pengadilan Agama akan menyampaikan isi/amar putusan itu kepada pihak yang tidak hadir, dan putusan baru berkekuatan hukum tetap setelah 14 hari amar putusan diterima oleh pihak yang tidak hadir itu.

Catatan:

Untuk perkara Cerai Talak masih ada Sidang lanjutan yaitu sidang pengucapan Ikrar Talak, dan ini dilakukan setelah putusan Berkekuatan Hukum Tetap (BHT). Kedua belah pihak akan dipanggil lagi kealamatnya untuk menghadiri sidang tersebut.

Penulis: SA

Ingin mengajukan pertanyaan mengenai permasalahan hukum keluarga yang tengah Anda hadapi? Kami siap membantu Anda dengan memberikan konsultasi secara GRATIS.

Silahkan hubungi Kantor Hukum Rafa & Partners di:

Wa: 081365531099.

Website: https://rafa-law.com/

Email: info@rafa-law.com.

Kantor: Menara 165, Lantai 4, Jakarta Selatan.

 

2 komentar untuk “10 Tahapan dalam Proses Sidang Perceraian di Pengadilan Agama”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
Scroll to Top