Ahli: Merek Dagang dan Potret Nyonya Meneer Merupakan Dua Hal yang Terpisah

Selasa (11/8) lalu, Pengadilan Niaga Semarang kembali menggelar sidang lanjutan dugaan pelanggaran hak cipta terkait penggunaan potret berwajah Nyonya Meneer. Adapun selaku Penggugat merupakan ahli waris Nyonya Meneer, Charles Saerang dan sebagai Tergugat PT Bhumi Empon Mustiko (BEM), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual.

Pada sidang tersebut, pihak Penggugat menghadirkan saksi ahli yakni dosen Fakultas Hukum Universitas Tarumanegara, Suyud Margono. Dalam keterangannya Suyud menerangkan, potret dan merek dagang merupakan dua hal berbeda yang sudah diatur dalam Pasal 12 Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU No. 28/2014).

“Jadi dijelaskan dalam aturan itu bahwa potret merupakan tampilan perwajahan yang objeknya berupa manusia. Sedangkan, merek adalah tanda grafis, berupa susunan angka atau huruf, warna, hologram, gambar 3 dimensi atau 2 dimensi,” jelas Suyud.

Suyud menuturkan, karya potret ini di dalam hak cipta hukumnya lex spesialis. Artinya, kata Suyud, jika akan digunakan oleh orang lain, maka harus memiliki izin dari pemilik aslinya.

“Atau jika yang berada di dalam potret sudah meninggal bisa izin ke ahli waris,” lanjutnya.

Menurut Suyud, karena potret memiliki hak cipta, secara otomatis ada hak moral dan hak ekonomi di dalamnya. Ia menjelaskan, sehingga, penggunaan atau pengalihan kepemilikan tanpa izin berdampak pada kerugian materiil.

Dalam persidangan, Majelis Hakim PN Semarang yang dipimpin oleh M Yusup menanyakan terkait kemungkinan antara merek dagang dengan potret.

“Kalau pendaftaran merek itu di dalamnya terdapat potret bisa apa tidak?” ujarnya.

Suyud pun kembali menegaskan, bahwa keduanya memiliki dimensi yang berbeda. Kalaupun keduanya didaftarkan secara bersamaan, harus didalami dulu apakah sudah meminta izin atau memberi royalti kepada pemilik aslinya atau belum.

Sebagai referensi, kasus tersebut bermula dari pihak PT Bumi Empon Mustika menggunakan potret berwajah Lauw Ping Nio atau dikenal dengan Nyonya Meneer dalam sebuah kemasan produk minyak telon yang dipasarkan.

Lauw Ping Nio sendiri merupakan eyang kandung Charles Saerang yang merupakan pendiri pabrik jamu Nyonya Meneer sejak tahun 1919. Perusahaan tersebut diketahui telah membeli 72 merek dagang Nyonya Meneer setelah dinyatakan pailit pada 2017.

Sementara itu, Charles Saerang mengaku dirinya tidak pernah memberikan izin pemakaian foto leluhurnya di produk minyak telon itu. Menurutnya, pemakaian foto itu telah melukai hatinya sebagai ahli waris sah dari perusahaan jamu legendaris ini.

“Saya sebagai keluarga mengharapkan kebenaran. Tolonglah foto gambar nenek saya harus diapresiasi. Apalagi saya sudah bekerja di Nyonya Meneer sejak tahun 1976-2017. Jadi saya kecewa cukup mendalam. Karena itu merupakan warisan yang keluarga besar Nyonya Meneer,” ungkapnya.

Tak menemui titik terang, akhirnya Charles Saerang membawanya ke ranah hukum. Gugatan tersebut telah terdaftar dengan nomor registrasi 2/Pdt.Sus-HKI/Cipta/2020/PNNiagaSMg. Dalam petitumnya, Penggugat meminta majelis hakim menghukum pihak Tergugat untuk membayar kerugian materiil senilai Rp43,2 Miliar dan kerugian imateriil senilai Rp500 Miliar.

SLTL

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
Scroll to Top