CEO Law Firm Rafa & Partners Apresiasi Langkah Mediasi Hotman Paris dan Hotma Sitompul

CEO Law Firm Rafa & Partners Apresiasi Langkah Mediasi Hotman Paris dan Hotma Sitompul

Jakarta, Rafa-Law.com – Perseteruan antar pengacara kondang Hotman Paris Hutapea dan Hotma Sitompul tidak pernah absen dari permukaan media massa baik online atau pun cetak. Silang pendapat terjadi masif seakan-akan saling memancing dan memanas-manasi satu sama lainnya.

Hotman Paris Hutapea dan Hotma Sitompul saling melemparkan pandangan-pandangan hukum, keinginan mereka untuk naik banding bukan tidak mungkin ditempuh oleh kedua belah pihak demi meraih pembuktian yang sempurna dalam memenangkan perkara ini.

“Konflik yang melibatkan ibu Desire Tarigan vis a vis Hotma Sitompul tentu harusnya diselesaikan baik-baik tanpa harus saling lapor-melaporkan pengacaranya,” ujar Rahmat saat ditemui awak media pasca keluar dari kantor Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya.

CEO Kantor Hukum Rafa and Partners, mengatakan, bagi seorang lawyer mediasi harus menjadi tindakan yang lebih diprioritaskan dalam menyelesaikan masalah atau perkara yang sedang ditangani. Bukan sebaliknya, malah terjadi aksi saling lapor, dan lain sebagainya.

Menurutnya, perkara yang dihadapi bang Hotman memang diakui cukup beresiko karena melibatkan pengacara kondang juga, ialah bang Hotma. Oleh karena itu, masalah hukum seperti ini alangkah baiknya menempuh jalur mediasi. Artinya, harus ada tim mediatornya baik di Pengadilan atau pun di DPN Peradi.

“Apalagi ini perkara perdata alias perkara perkawinan yang sebenarnya dalam konteks hukum masuk wilayah hukum privat. Sehingga persoalan demikian bisa diselesaikan secara kekeluargaan berdasarkan prinsip-prinsip hukum mediasi,” ungkapnya.

Pengacara muda asal Sulawesi Selatan itu selaras dengan apa yang disampaikan oleh Ketua DPN Peradi, Prof. Otto Hasibuan. Ia mengatakan, terkait putusan yang menyangkut pelanggaran kode etik sudah dimenangkan Hotman Paris, tentu putusan itu harus dihormati. Jika hal itu terjadi, tidak baiknya adalah menjadi contoh bagi pengacara muda.

Saya mendukung langkah yang ditempuh oleh bang Hotman dan bang Hotma apabila memakai mediasi sebagai alternatif penyelesaian sengketa. Namun, saya menolak jika langkah mereka hanya saling lapor. Bagi seorang lawyer yang sukses apabila mereka mampu menggunakan mediasi sebagai langkah yang diutamakan dalam menuntaskan masalah hukum.

Lawyer muda ini mengapresiasi langkah-langkah yang ditempuh dua pengacara kondang ialah Hotman Paris Hutapea dengan Hotma Sitompul. Dengan harapan, adanya media tersebut setidaknya memberikan pelajaran baru bagi generasi lawyer di Indonesia bahwa setiap kasus atau masalah hukum harus diselesaikan secara litigasi, tetapi bisa juga mengutamakan mediasi terlebih dahulu.

“HIR dan RBg sudah mengenal istilah media atau istilah lainnya adalah yang diatur dalam UU Alternatif Penyelesaian Sengketa, dan Peraturan Mahkamah Agung,” ungkapnya.

Mahkamah Agung mengatur tentang media mulai dari beberapa peraturan: Pertama, SEMA No.1 Tahun 202 tentang Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama Menerapkan Lembaga Damai. Kedua, Perma No.2 Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Ketiga, Perma No.1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Keempat, Perma No.1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

Dalam konteks ini, pengacara yang piawai dalam perkara perdata ini mengatakan pentingnya mediasi sebelum meangkah ke tahap persidangan sebagai suatu pijakan hukum sebagaimana dalam praktik hukum acara perdata yang berlaku.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
Scroll to Top