Dianggap Melakukan Perbuatan Melawan Hukum, Sentul City Gugat Balik Keluarga Bintoro

Sentul City meminta keluarga Bintoro membayar ganti rugi materiil sebesar Rp50 Miliar dan kerugian immateriil senilai Rp500 Miliar.

Perseteruan PT Sentul City Tbk (BKSL) dengan keluarga Bintoro memasuki babak baru. Usai digugat pailit, Sentul City menggugat balik keluarga Bintoro yang sebelumnya telah mengajukan permohonan pailit. Tidak tanggung-tanggung, Sentul City meminta keluarga Bintoro membayar ganti rugi materiil sebesar Rp50 Miliar dan kerugian immateriil senilai Rp500 Miliar.

Pada 14 Agustus lalu, Sentul City telah mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap keluarga Bintoro di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Gugatan tersebut terdaftar dengan nomor perkara 465/Pdt.G/2020/PN Jkt.Pst. Adapun sebagai tergugat dalam perkara tersebut adalah Ang Andi Bintoro, Linda Karnadi, Meilyana Bintoro, Jimmy Bintoro, Silviana Bintoro, dan Denny Bintoro.

Untuk diketahui, keluarga Bintoro merupakan pendiri dan pemilik Grup Olympindo yang bergerak di sektor jasa keuangan melalui beberapa unit bisnis, antara lain PT Olympindo Multi Finance dan PT Batavia Mitratama Insurance. Olympindo Multi Finance saat ini bernama PT Jtrust Olympindo Multi Finance usai 60 persen sahamnya diakuisisi oleh JTrust Asia Pte. Ltd pada Oktober 2018 lalu. Sementara Batavia Mitratama Insurance telah merger dengan PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk usai 80 persen sahamnya diakuisisi Fairfax Financial Holdings Limited.

Sebagai referensi, keenam tergugat tersebut sebelumnya telah mengajukan gugatan pailit terhadap Sentul City di PN Jakarta Pusat. Dalam gugatan yang didaftarkan pada 7 Agustus 2020 dengan nomor perkara 35/Pdt.Sus-Pailit/2020/PN Niaga, para pemohon, yakni Ang Andi Bintoro, Linda Karnadi, Meilyana Bintoro, Jimmy Bintoro, Silviana Bintoro, dan Denny Bintoro, meminta majelis hakim menyatakan Sentul City berada dalam keadaan pailit.

Gugatan pailit yang diajukan keluarga Bintoro bermula dari jual beli tanah kavling tujuh tahun silam.Ceritanya, pada 13 Juli 2013, keluarga Bintoro melakukan perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) tanah kaveling dengan Sentul City. Berdasarkan perjanjian tersebut, serah terima kaveling dijadwalkan pada Oktober 2013. Saat itu, keluarga Bintoro telah melunasi pembayaran uang muka, booking fee, dan angsuran ketiga, Pada 3 Maret 2015, keluarga Bintoro telah melunasi seluruh angsuran dengan total Rp29,319 Miliar.

 

Erwin Kallo, kuasa hukum keluarga Bintoro, mengatakan, Sentul City tidak juga melakukan serah terima setelah keluarga Bintoro melakukan pelunasan, Itu sebabnya, keluarga Bintoro melayangkan somasi ke Sentul City. Hingga 2019, keluarga Bintoro telah enam kali melayangkan somasi.

Dalam jawaban terhadap surat somasi tersebut, Sentul City menyatakan bahwa tahan kaveling tidak dapat diserahterimakan karena masalah teknis. Setelah itu, Sentul City menawarkan alternatif untuk relokasi tanah kaveling, Namun, keluarga Bintoro menolak relokasi kaveling dan meminta Sentul City mengembalikan uang yang telah dibayarkan. “Karena tidak mau direlokasi, maka klien kami meminta uangnya kembali,” ujar Erwin.

Erwin menyebutkan, keluarga Bintoro melakukan tiga kali somasi lagi yakni pada tanggal 23 Maret, 30 Maret, dan 8 April 2020.

Ia menjelasakan, Sentul City kemudian memberikan tanggapan yang menyatakan tidak dapat hadir dikarenakan Covid-19 namun berjanji akan menyelesaikan masalah tersebut. Namun, hingga Agustus, belum ada kabar lagi dari Sentul City terkait permintaan pengembalian uang keluarga Bintoro. Karena tidak ada respons, keluarga Bintoro akhirnya mengajukan permohonan pailit.

“Kami berasumsi karena Sentul City tidak mampu membayar, tidak bisa melaksanakan kewajibannya, kita pailitkan. Mudah-mudahan dengan dipailit ini bisa kembali uangnya,” lanjut Erwin.

Erwin menilai, manajemen Sentul City arogan dan tidak profesional karena mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap keluarga Bintoro. Sebab katanya, keluarga Bintoro justru tengah melakukan prosedur hukum dengan mengajukan gugatan pailit.

“Kami melakukan prosedur hukum kok dianggap perbuatan melawan hukum.gugatan pailit merupakan satu-satunya cara untuk mempertahankan dan melinduingi hak-hak keluarga Bintoro yang telah membayarkan uang namun belum memperoleh tanah yang dijanjikan maupun pengembalian uang,” pungkasnya.

 

SLTL

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
Scroll to Top