Jasa Marga Bidik Emisi Surat Berharga Komersial Hingga Rp1 Triliun

Surat utang ini menjadi alternatif sumber pendanaan baru bagi perseroan.

PT Jasa Marga Tbk (JSMR) tengah merancang penerbitan Surat Berharga Komersial (SBK) senilai Rp500 Miliar hingga Rp1 Triliun ke depan. Surat utang ini menjadi alternatif sumber pendanaan baru bagi perseroan. Corporate Finance Group Head Jasa Marga, Eka Setya Adrianto mengatakan, perseroan masih fokus untuk menerbitkan instrumen obligasi sebagai pendanaan bagi proyek-proyek perseroan.

“Rencananya produk ini seperti discounted bond dan tenornya tidak lebih dari satu tahun,” ujar Eka dalam paparan publik, Senin (31/8).

Eka menambahkan, karena SBK merupakan produk baru, perseroan belum menargetkan jumlah yang besar dari penerbitan tersebut. Katanya, selain menjadi alternatif pendanaan, penerbitan SBK ditujukan demi menyemarakkan produk baru yang dibuat oleh Bank Indonesia.

“Selama ini penerbitan SBK hanya dilakukan oleh perusahaan pembiayaan atau multifinance, seperti SMF. Sampai saat ini belum ada perusahaan infrastruktur seperti Jasa Marga yang menerbitkan SBK,” tuturnya.

Eka mengungkapkan, dalam waktu dekat ini,  pihaknya juga akan meninjau kembali penerbitan KIK EBA Syariah hingga akhir tahun nanti. “Nanti di-review, tergantung kebutuhannya. Sebelumnya perseroan berencana menggalang dana sekitar Rp5 Triliun pada semester I-2020.

Untuk itu, perseroan mengkaji sejumlah penerbitan surat utang, mulai dari global bond, obligasi rupiah, step up coupon bond, hingga sekuritisasi aset melalui kontrak investasi kolektif efek beragun aset (KIK-EBA) syariah” ujarnya.

Sebagai informasi, Surat Berharga Komersial (SBK) adalah instrumen pasar uang yang memfasilitasi perusahaan menerbitkan surat utang jangka pendek tanpa jaminan di pasar uang. Tenor SBK ini tergolong pendek, yaitu satu bulan, tiga bulan, sembilan bulan, dan 12 bulan.

Instrumen SBK ini bisa diterbitkan oleh korporasi non-bank yang berbentuk emiten dan memenuhi persyaratan dari Bank Indonesia. Selain itu, perusahaan yang tidak tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga bisa menerbitkan SBK ini dengan memenuhi persyaratan dari BI.

Sementara itu, hingga semester I-2020, laba bersih perseroan tercatat senilai Rp105,7 Miliar. Laba tersebut turun signifikan dari perolehan periode sama semester I-2019 yang mencapai Rp1,06 Triliun. Perseroan mencatat pendapatan sebesar Rp6,77 Triliun atau turun dari periode sebelumnya senilai Rp13,83 Triliun. Penurunan pendapatan terutama dipicu pelemahan pendapatan tol perseroan yang hingga 17,5 persen menjadi Rp3,9 Triliun. Kendati, pendapatan non tol perseroan tetap bertumbuh 4,1 persen menjadi Rp433,3 Miliar.

 

SLTL

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
Scroll to Top