MDI Ventures Siap Gelontorkan Dana US$500 Juta Guna Mendukung Transformasi Digital BUMN

MDI Ventures juga menggunakan dana tersebut untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang memiliki fokus khusus pada Indonesia.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom melalui modal venturanya, MDI Ventures, mengantongi dana investasi baru senilai US$ 500 juta untuk mendukung agenda transformasi digital Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Hal tersebut membuat valuasi multi-dana kelolaan MDI Ventures bertambah menjadi lebih dari US$790 Juta. Chief Executive Officer (CEO) MDI Ventures Donald Wihardja mengatakan, dana investasi baru tersebut akan digunakan untuk mengembangkan agenda Telkom Group yang sudah ada. Menurutnya, MDI Ventures juga menggunakan dana tersebut untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang memiliki fokus khusus pada Indonesia. Ia menuturkan, selanjutnya perusahan memasukkan portofolionya tidak hanya pada satu BUMN, namun juga untuk semua BUMN.

Agenda ini adalah bagian dari rencana ambisius untuk membangun ekosistem digital milik negara secara menyeluruh. Karena itu, saat ini MDI Ventures mencari sejumlah perusahaan rintisan (start-up) teknologi dengan potensi pertumbuhan yang kuat serta daya tarik yang besar.

“Para start-up ini diharapkan tidak hanya berambisi untuk mendominasi pasar di Indonesia, tetapi juga dapat membantu BUMN tradisional untuk bergabung dengan ekonomi digital yang berkembang pesat,” jelas dia dalam keterangan resmi, Selasa (18/8).

Donald menambahkan, nilai ekonomi digital Indonesia melonjak hingga US$40 Miliar pada 2019, dengan sektor e-commerce yang bertindak sebagai katalis utama lonjakan tersebut. Pertumbuhan pesat ini turut didukung oleh semakin mudahnya sistem pembayaran digital dan meluasnya consumer adoption. Ke depan, lanjut dia, untuk mempertahankan pijakan yang kuat di pasar, BUMN harus mengadopsi model bisnis digital dengan lebih mendalam dibandingkan sebelumnya.

“Dengan mengalokasikan dana ini sesuai dengan misi transformasi digital dari pemerintah, serta dengan bermitra langsung dengan inovator teknologi lokal, BUMN Indonesia menempatkan diri mereka untuk terus berkembang,” jelas Donald.

Sebagai informasi, upaya-upaya transisi menuju paradigma digital sepenuhnya telah dilakukan oleh beberapa BUMN besar dalam beberapa tahun terakhir. Semisal, bank BUMN telah merilis berbagai inovasi teknologi sejak 2018, termasuk platform pinjaman berbasis aplikasi online untuk UKM. Beberapa BUMN juga telah menjalin kemitraan dengan banyak start-up fintech seperti Privy, Oy, LinkAja, dan ModalRakyat.

Chief Operating Officer (COO) MDI Ventures Sandhy Widyasthana mengatakan, BUMN dan start-up teknologi dapat menjalin hubungan yang saling menguntungkan. Katanya, semisal, BUMN dapat memberikan akses kepada start-up teknologi untuk basis klien korporat BUMN yang besar dan jaringan konsumen. Ia menjelaskan, sementara itu, pihak start-up dapat memberikan nilai tambah berbentuk layanan digital yang dapat membantu mereka beradaptasi dengan lanskap bisnis yang berubah sangat cepat di Indonesia.

“Ini juga berarti beberapa start-up tersebut berpotensi memiliki lebih banyak peluang exit di kemudian hari,” kata dia.

Hal senada diutarakan Chief Strategy Officer (CSO) Telkom Group Budi Setiawan. Menurut dia, selama beberapa tahun terakhir, BUMN telah melakukan lompatan yang signifikan menuju digitalisasi. Namun, masih ada celah yang harus diisi di berbagai bidang.

“Yang kami cari adalah start-up yang dapat memperluas batasan inovasi dan membawa teknologi yang tepat ke dalam ekosistem digital milik negara,” jelas dia.

Seperti diketahui, MDI Ventures bersama Telkom Group telah bekerja sama untuk mengembangkan kapabilitas digital in-house sejak 2016. Dengan berinvestasi di lebih dari 44 start-up dari 12 negara, MDI Ventures membuka berbagai saluran pendapatan dan sinergi baru untuk Telkom Group.

Tak hanya sinergi secara internal, MDI Ventures tercatat berhasil mengeksekusi aksi exit yang menguntungkan. Pada 2019, aksi exit tersebut antara lain penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham start-up asal Australia, Whispir, di Bursa Efek Australia (ASX), kemudian akuisisi Red Dot Payment oleh Naspers dengan valuasi US$65 Juta, dan akuisisi Wavecell oleh perusahaan asal AS, yakni 8×8 Inc, senilai US$125 Juta.

 

SLTL

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
Scroll to Top