Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Industri Media, Begini Analisis Saham MNCN dan SCMA

“Insentif yang diberikan oleh pemerintah dapat membantu emiten media untuk bertahan. Menurutnya, hanya saja dampaknya mungkin tidak terlalu signifikan”.

Pemerintah berencana akan memberikan sejumlah insentif kepada pekerja dan industri media. Adapun insentif tersebut antara lain:

Pertama, menghapuskan pajak pertambahan nilai (PPN) bagi kertas koran.

Kedua, mengupayakan mekanisme penundaan atau penangguhan beban listrik bagi industri media.

Ketiga, menangguhkan iuran BPJS Ketenagakerjaan selama 12 bulan untuk industri pers dan industri lainnya.

Keempat, pemerintah akan mendiskusikan dengan BPJS Kesehatan terkait dengan penangguhan pembayaran premi BPJS Kesehatan bagi pekerja media.

Kelima, pemerintah juga berjanji memberikan sejumlah insentif pajak.

Misalnya, keringanan cicilan pajak korporasi pada masa pandemi dari yang semula turun 30 persen menjadi turun 50 persen. Pemerintah juga akan membebaskan pajak penghasilan (PPh) karyawan yang berpenghasilan hingga Rp 200 juta per bulan. Selain itu, semua kementerian diperintahkan agar mengalihkan anggaran belanja iklan ke media lokal.

Menaggapi hal tersebut, Analis Jasa Utama Capital Sekuritas, Chris Apriliony mengatakan, insentif akan membantu emiten media lebih leluasa dan bertahan hingga vaksin Covid-19 ditemukan. Menurutnya, apabila sesuai prediksi, maka semestinya vaksin bisa diproduksi pada kuartal I-2021.

Chris menambahkan, ke depan prospek media masih bagus sejalan dengan banyak media yang beralih ke digital dengan pembuatan konten-konten yang dapat dinikmati secara global.

“Kondisi ini dapat mendorong harga saham emiten media. Untuk harga saham, cenderung masih dapat menguat,” jelas Chris kepada BacaLaw.ID, Sabtu (22/8) lalu.

Chris menuturkan, dirinya merekomendasikan saham MNCN dan SCMA yang masih cukup menarik karena sudah terkoreksi cukup dalam. Katanya, terlebih karena kinerja kedua emiten media ini cenderung masih cukup stabil di tengah pandemi.

Sementara itu, Analis Mirae Assset Sekuritas, Christine Natasya menilai, insentif yang diberikan oleh pemerintah dapat membantu emiten media untuk bertahan. Menurutnya, hanya saja dampaknya mungkin tidak terlalu signifikan.

“Saat ini, Saya masih merekomendasikan beli saham MNCN karena beban utang emiten ini mulai berkurang. Belum lagi valuasi saham MNCN terbilang murah. Akhir perdagangan Rabu (19/8), saham MNCN memiliki price earning ratio (PER) sebesar 6,79 kali,” ucapnya.

Ia melanjutkan, dirinya menargetkan harga MNCN mencapai Rp1.130 per saham. “Rekomendasi buy karena prospek masih bagus, valuasi murah. Sepanjang semester pertama 2020, MNCN membukukan laba bersih sebesar Rp956,2 Miliar atau turun 17,4 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pencapaian laba tersebut sudah 52 perse  dari proyeksi Mirae untuk seluruh tahun 2020, serta 49 persen dari proyeksi target konsensus,” tukasnya.

Christine menerangkan, setelah PSBB dilonggarkan, dirinya memprediksi kinerja MNCN juga akan kembali membaik dan pulih di 2021

Sebagai referensi, adapun harga saham MNCN saat ini Rp910, sementara SCMA sebesar Rp1.210. Chris menargetkan harga kedua saham tersebut masing-masing Rp1.200 dan Rp1.700.

Sementara itu, pendapatan MNCN di semester I-2020 mencapai Rp3,9 Triliun atau setara 47 persen dari estimasi Mirae Asset Sekuritas di 2020. Kinerja MNCN turun lantaran adanya penghematan biaya oleh pengiklan, meskipun penayangan di televisi meningkat sejalan dengan sosialisasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

 

SLTL

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
Scroll to Top