Seberapa Penting Membuat Suatu Perjanjian Pra-Nikah ?

Sebelum calon pasangan suami istri hendak menikah yang perlu dipertimbangkan salah satunya adalah perlu atau tidaknya dibuat suatu perjanjian pra-nikah atau prenuptial agreement. Perjanjian pra-nikah sendiri merupakan sebuah perjanjian kesepakatan yang dibuat antara calon suami dan calon istri sebelum digelarnya pernikahan. Adapun, isi perjanjian tersebut bervariasi.

Namun, umumnya surat perjanjian pranikah berisi tentang harta pribadi kedua belah pihak yang dimiliki sebelum menikah, sehingga mempermudah pembagiannya jika suatu saat terjadi perselisihan tentang harta.

Perjanjian pranikah dibuat oleh notaris dan dicatat di buku pernikahan melalui KUA atau Catatan Sipil. Maka dari itu, perjanjian pra-nikah adalah surat yang memiliki status sah di mata hukum, serta berlaku untuk pihak ketiga, seperti bank untuk hal yang menyangkut perdagangan ataupun utang piutang.

Beberapa orang mungkin mempertanyakan maksud dan fungsi perjanjian ini sebetulnya. Tidak mengherankan bila sebagian orang berpendapat bahwa perjanjian pra-nikah seolah-olah menyetujui dan mengukuhkan kawin kontrak, dimana perkawinan yang berlangsung sesungguhnya tidak nyata dan pasti akan ada perpisahan. Dalam perpisahan tersebut, telah diatur berbagai kepentingan masing-masing pria dan wanita yang terikat dalam kontrak sehingga ketika kontrak berakhir, kedua belah pihak bisa ‘berpisah’ dengan membawa harta pribadi dan tidak ada yang merasa dirugikan dengan sandiwara pernikahan palsu ini.

Tidak salah juga bila sebagian orang berpendapat tidak menyetujui adanya perjanjian pra-nikah dengan pendapat bahwa pernikahan didasari oleh perasaan cinta dua insan manusia yang di dalamnya tidak lagi mengenal pembagian harta “gono-gini”. Namun, harta tersebut telah menjadi milik bersama. Terlepas dari kepercayaan masing-masing orang, perjanjian pra-nikah lebih kepada perlindungan hukum bagi setiap masyarakat dari tuntutan yang mungkin muncul ketika terjadi perceraian antara suami dan istri atau terjadi perpisahan akibat kematian.

Dalam suatu perkawinan permasalahan harta merupakan hal yang sering memicu perselisihan antar suami istri. Salah satunya, dalam menentukan apakah suatu aset termasuk harta bawaan atau bukan. Karena jika suatu aset termasuk harta bawaan maka sepenuhnya merupakan hak dari si pemilik barang dan tidak dapat dibagi ketika terjadi perceraian. Lain halnya jika aset tersebut merupakan harta bersama. Aset tersebut merupakan hak suami dan istri secara bersama-sama. Sehingga ketika terjadi perceraian maka harus dibagi sama rata.

Oleh karena itu perlu dipahami betul apa saja yang termasuk kategori harta bawaan. Jika merujuk Pasal 35 ayat (2) Undang-Undang Nomor. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UU Perkawinan”) yang dimaksud dengan harta bawaan yaitu:

Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah adalah di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain”.

UU Perkawinan tidak mejelaskan lebih lanjut yang dimaksud harta bawaan maupun menjabarkan jenis-jenis dari harta bawaan tersebut. Perlu tidaknya, wajib tidaknya, perjanjian pra-nikah dibuat atas kesadaran dan kerelaan calon mempelai. Meski tidak mengharuskan pembuatannya, tetapi perjanjian ini lebih disarankan dibuat untuk melindungi kedua belah pihak. Dalam pembuatannya pun, sebaiknya Anda juga memperhatikan empat aspek krusial berikut:

Pertama, Keterbukaan.

Sebelum Anda benar-benar siap mental dalam menghadapi rumah tangga dan segala persoalannya, pembuatan perjanjian pra-nikah membantu Anda melatih diri untuk bersikap terbuka dengan mental yang siap dalam menghadapi perkara yang mungkin Anda hadapi nantinya ketika sudah sah sebagai suami dan istri. Pembuatan perjanjian pra-nikah memaksa Anda untuk terbuka mengenai jumlah harta pribadi masing-masing yang akan dibawa sebelum akhirnya harta itu diklaim menjadi milik bersama seiring dengan diucapkannya kata ‘sah’ dalam pemberkatan perkawinan. Selain jumlah nominal harta yang akan dibawa masing-masing, Anda juga harus terbuka mengenai potensi peningkatan harta, warisan, bahkan jumlah hutang yang dimiliki saat ini. Bagian ini berfungsi untuk mengetahui secara detil apa saja yang berhak Anda terima dan harus Anda korbankan bilamana terjadi perceraian atau terpisah kematian.

Kedua, Kerelaan.

Hal yang cukup penting di sini selain keterbukaan adalah kesediaan untuk membuat dan menyepakati bersama perjanjian pra-nikah tersebut sebelum akhirnya beranjak pada tahap persiapan pernikahan. Tidak boleh ada yang merasa terpaksa dalam pembuatan perjanjian pra-nikah ini, baik itu laki-laki sebagai suami maupun perempuan sebagai istri, karena keterpaksaan akan membatalkan perjanjian ini secara hukum.

Ketiga, Objektif.

Pembuatan perjanjian pra-nikah tidak bisa asal membuat di atas kertas yang ditanda tangani dengan meterai Rp6.000 saja. Ada pejabat yang berwenang dalam pembuatan perjanjian pra-nikah ini sekaligus sebagai saksinya. Notaris merupakan pihak yang dimaksud sebagai pejabat yang berwenang dalam pembuatan perjanjian pra-nikah. Notaris yang Anda pilih sebaiknya notaris yang kredibel sehingga menjaga objektifitas perjanjian dan pada akhirnya tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Keempat, Notariil.

Setelah perjanjian pra-nikah dibuat secara resmi dengan saksi dan pembuatnya merupakan notaris selaku pejabat yang berwenang, perjanjian pra-nikah tersebut juga harus dilaporkan kepada lembaga pencatatan perkawinan yaitu KUA atau Kantor Catatan Sipil yang akan mendokumentasikan perjanjian pra-nikah Anda sehingga telah sah di mata hukum dan Anda bisa melanjutkan proses pengesahan diri sebagai pasangan suami istri yang baru.

Penulis: RA

Ingin mengajukan pertanyaan mengenai permasalahan hukum keluarga yang tengah Anda hadapi? Kami siap membantu Anda dengan memberikan konsultasi secara GRATIS.

Silahkan hubungi Kantor Hukum Rafa & Partners di:

Wa: 081365531099.

Website: https://rafa-law.com/

Email: info@rafa-law.com.

Kantor: Menara 165, Lantai 4, Jakarta Selatan.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
Scroll to Top