Semen Baturaja Teken Perjanjian Sindikasi dengan Lima Bank Lokal Senilai Rp1,7 Triliun

Pinjaman ini memiliki jangka waktu 132 bulan sejak kesepakatan dengan kredit bunga 9,45 persen per tahun.

PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) meraih fasilitas pendanaan hingga senilai Rp1,7 Triliun dari lima bank dalam negeri. Sindikasi ini akan digunakan perseroan untuk kebutuhan pembayaran (refinancing) utang dan modal kerja jangka pendek. VP Corporate Secretary Semen Baturaja, Basthony Santri mengatakan, penandatanganan kredit sindikasi dilakukan pada 13 Agustus 2020. Pinjaman memiliki jangka waktu 132 bulan sejak kesepakatan dengan kredit bunga 9,45 persen per tahun.

Basthony menuturkan, adapun komitmen pinjaman tersebut sebagai berikut: Pertama, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) memberikan komitmen pinjaman hingga Rp950 Miliar. Kedua, PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) sebesar Rp100 Miliar. Ketiga, BPD Sumatera Selatan dan Bangka Belitung senilai Rp7 Miliar. Keempat, BPD Maluku dan Maluku Utara sebesar Rp50 Miliar. Kelima, BPD Bengkulu sebanyak Rp50 Miliar.

“Dengan demikian, sampai saat ini komitmen bank yang sudah masuk sebesar Rp1,22 Triliun. BNI sebagai mandated lead arranger and bookrunner (MLAB) tetap melaksanakan mandat sampai dengan limit fasilitas, dimana komitmen yang belum terpenuhi sebesar Rp 480 miliar,” jelas Basthony

Pada akta perjanjian sindikasi, Semen Baturaja memberikan jaminan yang terdiri dari sebidang tanah, bangunan dan sarana pelengkap di area pabrik baturaja II. Selain itu, jaminan yang turut dicatatkan adalah mesin dan peralatan pabrik baturaja II milik debitur diikat dengan fidusia. Adapun pinjaman akan digunakan untuk pembiayaan kembali proyek baturaja II yang sebelumnya telah didanai oleh fasilitas kredit sindikasi, dan penerbitan surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN).

Sebagian porsi pinjaman juga ditujukan untuk self-financing. Sementara itu, manajemen Semen Baturaja menyatakan pandemi Covid-19 berdampak kepada pemenuhan kewajiban pokok dan bunga utang perseroan. Oleh karena itu, perseroan menerapkan sejumlah strategi demi mempertahankan keberlangsungan usaha. Strategi yang dijalani perseroan antara lain, melakukan efisiensi proses produksi dengan hanya mengoperasikan 1 pabrik terintegrasi, memangkas biaya overhead dan penunjang, menunda pelaksanaan belanja modal, serta repackaging kredit.

Baru-baru ini, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Semen Baturaja menyetujui perubahan susunan dewan direksi dan komisaris perseroan dengan mengangkat Mukhamad Saifudin sebagai direktur pemasaran menggantikan Dede Parasade. Pemegang saham juga menyetujui pengangkatan Franky Sibarani sebagai komisaris utama menggantikan Harjanto. Sedangkan Endang Tirtana diangkat menjadi komisaris independen menggantikan Dewi Yustisiana.

Direktur Utama Semen Baturaja, Jobi Triananda Hasjim mengatakan, pemegang saham menyetujui rasio dividen tahun buku 2019 sebesar 20,48 persen dan menetapkan sisa laba bersih sebesar Rp23,91 Miliar sebagai cadangan lainnya.

“RUPS juga menyetujui perubahan susunan pengurus perseroan. Perubahan susunan tersebut dilandasi kebutuhan dalam menghadapai tantangan perseroan ke depan,” ujarnya.

 

SLTL

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
Scroll to Top