Siap Gelar Private Placement, Harga Saham Global Mediacom Anjlok 6,06 Persen

Pada awal sesi, harga BMTR sempat naik di level Rp306 dari harga pembukaan Rp 272. Namun, akhirnya ditutup turun 6,06 persen menjadi Rp248 per lembar saham.

Harga saham PT Global Mediacom Tbk (BMTR) pada perdagangan Kamis (13/8) anjlok 6,06 persen menjadi Rp248. Hal tersebut lantaran disetujuinya rencana private placement atau Penambahan Modal Tanpa Melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) pada harga Rp 200.

Dalam bukti iklan yang disampaikan BMTR kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tanggal 13 Agustus 2020, disebutkan bahwa Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang diselenggarakan 11 Agustus 2020 telah menyetujui pelaksanaan PMTHMETD pada harga Rp 200 per saham.

Pada awal sesi, harga BMTR sempat naik di level Rp306 dari harga pembukaan Rp 272. Namun, akhirnya ditutup turun 6,06 persen menjadi Rp248 per lembar saham. Untuk pelaksanaan PMTHMETD, perseroan bermaksud menerbitkan sebanyak 700.000.000 saham baru dengan nilai nominal Rp100.

Pelaksanaan PMTHMETD dijadwalkan tanggal 24 Agustus 2020 dan pemberitahuan hasil pelaksanaan pada 26 Agustus 2020. Aksi korporasi private placement itu akan menambah modal BMTR sebesar Rp140 miliar. Tujuan dilaksanakannya PMTHMETD ini untuk memperkuat struktur permodalan Perseroan, demikian manajemen BMTR dalam keterbukaan informasi.

Menurut mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud, aksi korporasi private placement di bawah harga pasar sangat merugikan investor, khususnya ritel.

“Private placement di bawah harga pasar itu sama saja mengisi langsung kantong dari existing shareholders,” katanya.

Hasan menilai, aksi korporasi ini mengandung unsur ketidak-adilan, tidak menggunakan prinsip level playing fied, meskipun sudah disetujui RUPSLB. Ia menggambarkan, dalam tender offer saja seorang seorang pengendali diwajibkan melakukan mandatori dengan harga pelaksanaan tidak boleh lebih rendah dari harga rata rata 90 hari terakhir perdagangan.

“Private placement berdampak jauh lebih besar bagi investor ritel ketimbang mandatory,” ujarnya. Hal senada diungkapkan oleh Katua LP3M Investa Hari Prabowo. “Concern investor adalah jangan sampai aksi korporasi merugikan investor,” ujarnya.

 

SLTL

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
Scroll to Top